Semua Berita AI

Bisnis2 menit baca

OpenAI Perkirakan Bakar Kas Hampir US$280 Miliar hingga 2030

Menurut Financial Times, OpenAI memproyeksikan arus kas negatif US$278 miliar pada 2026–2030 demi komputasi, dengan target pendapatan naik 10 kali lipat.

Oleh Hubert Tjandra

Presentasi di atas panggung dengan latar logo OpenAI.
Presentasi di atas panggung dengan latar logo OpenAI.

OpenAI memperkirakan akan "membakar" kas sebesar US$278 miliar sepanjang 2026 hingga 2030, seiring melonjaknya belanja daya komputasi dan infrastruktur. Proyeksi ini dilaporkan Financial Times (FT) dan dikutip kantor berita Reuters, Jumat (18/9/2026). FT merujuk pada presentasi internal perusahaan yang dilihatnya.

Istilah membakar kas berarti uang yang keluar jauh lebih besar daripada uang yang masuk. Dalam laporan keuangan, kondisi ini tercatat sebagai arus kas bebas (free cash flow) negatif. Menurut FT, arus kas negatif ini terjadi seiring investasi besar-besaran OpenAI untuk mengamankan kapasitas komputasi yang dibutuhkan untuk melatih dan menjalankan model AI-nya.

Pendapatan Naik 10 Kali, Belanja Lebih Besar Lagi

Di sisi pemasukan, targetnya ambisius. Pendapatan OpenAI diproyeksikan naik sepuluh kali lipat, dari US$36 miliar tahun ini menjadi US$350 miliar pada 2030. Secara total, perusahaan pembuat ChatGPT itu memperkirakan meraup pendapatan kumulatif US$840 miliar hingga akhir dekade ini.

Namun pengeluarannya lebih besar lagi. OpenAI memperkirakan belanja daya komputasi dan infrastruktur mencapai sekitar US$856 miliar hingga akhir 2030, pos pengeluaran terbesarnya. Angka ini saja sudah melampaui seluruh proyeksi pendapatan kumulatifnya.

FT juga melaporkan OpenAI menghimpun dana US$122 miliar pada Maret lalu dengan valuasi US$852 miliar. Dengan laju belanja saat ini, dana tersebut diperkirakan habis pada 2028.

Butuh Dana Segar, IPO Ditunda

Proyeksi ini menegaskan besarnya kebutuhan dana OpenAI di tengah upayanya mencari investasi baru. Awal pekan ini, FT melaporkan OpenAI telah berunding dengan investor dalam pembicaraan yang dapat menilai perusahaan sekitar US$1,2 triliun, menjelang kemungkinan melantai di bursa saham.

OpenAI sebenarnya telah mengajukan dokumen penawaran saham perdana (IPO) secara rahasia pada Juni. Namun CEO Sam Altman menyatakan pada Sabtu (12/9) bahwa perusahaannya tidak akan melantai di bursa pada 2026 karena kekhawatiran soal keamanan AI.

OpenAI belum dapat dihubungi untuk dimintai komentar di luar jam kerja.

Mengapa Ini Penting

Angka-angka ini memperlihatkan betapa mahalnya perlombaan AI. Daya komputasi, yakni chip, pusat data, dan infrastruktur pendukungnya, menjadi pos pengeluaran terbesar OpenAI. Pesaingnya pun menghadapi tekanan serupa: Anthropic juga sedang menimbang keseimbangan antara merilis model baru dan memperkuat profitabilitas menjelang rencana IPO-nya.

Apa Artinya bagi Bisnis di Indonesia

Laporan ini membawa dua pelajaran bagi pelaku usaha yang mulai memakai AI.

Pertama, harga AI hari ini belum tentu bertahan selamanya. OpenAI, salah satu penyedia AI terbesar, masih mengeluarkan uang jauh lebih banyak daripada yang dihasilkannya. Suatu saat penyedia AI harus mengejar laba, dan struktur harga bisa berubah. Saat menghitung manfaat otomasi dengan AI, sertakan skenario biaya yang lebih tinggi agar keputusan Anda tetap aman.

Kedua, jangan terkunci pada satu penyedia. Rancang sistem otomasi Anda agar model AI di dalamnya bisa diganti tanpa membongkar seluruh alur kerja. Dengan begitu, Anda bebas berpindah ke penyedia yang paling hemat dan paling cocok kapan pun kondisi pasar berubah.

Di sisi lain, persaingan ketat antarraksasa AI membuat kemampuan model terus naik dengan cepat. Bagi bisnis yang pintar memanfaatkannya, inilah saat yang tepat untuk mulai mengotomasi pekerjaan berulang.


Artikel ini disusun berdasarkan laporan Reuters (18/9/2026) yang mengutip Financial Times.

BagikanWhatsAppXLinkedInFacebook

Ingin AI bekerja untuk bisnis Anda?

Hectro membangun automation workflow — dari integrasi aplikasi sampai chatbot WhatsApp — yang langsung dipakai di bisnis Anda.

Berita AI Lainnya